Kisah Mualaf dari Perancis
07 Januari 2010
Saya adalah seorang Doktor dalam ilmu kesehatan, berasal dari keluarga Perancis Katolik. Pekerjaan yang saya pilih ini telah menyebabkan saya terpengaruh oleh corak kebudayaan ilmiah yang tidak banyak memberikan kesempatan dalam bidang kerohanian. Ini tidak berarti bahwa saya tidak percaya atas adanya Tuhan. Yang saya maksud ialah karena dogma-dogma dan peribadatan Kristen, khususnya Katolik, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa saya atas adanya Tuhan. Karena itulah maka naluri saya atas Esanya Tuhan Allah telah menjadi penghalang antara diri saya dan kepercayaan Trinitas, dan dengan sendirinya juga atas ketuhanan Yesus Kristus.
Muslim di Hawaii Bertambah Tiga Mualaf Perbulan
24 Desember 2009
Tidak sampai tiga minggu setelah tragedi runtuhnya menara kembar WTC akibat serangan teroris 11 September 2001, Heather Ramaha hadir di Masjid Manoa, Honolulu, Hawaii. Ia tidak sendiri. Beberapa wanita menyertainya. "Asyhadu ala Ilaha ilallah, wa asyhadui anna muhammadarasulullah," kalimat syahadat itu meluncur lancar dari mulut mereka. Sejak hari itu, Ramaha menjadi pemeluk Islam. Tak mau setengah-setengah, ia langsung mengenakan jilbab.
Pencarian Ramaha akan agama sudah berlangsung lama. Wanita asal California ini berasal dari keluarga Kristen yang kurang taat. Ia sempat mempelajari beberapa agama sebelum akhirnya menemukan Islam.
Pencarian Ramaha akan agama sudah berlangsung lama. Wanita asal California ini berasal dari keluarga Kristen yang kurang taat. Ia sempat mempelajari beberapa agama sebelum akhirnya menemukan Islam.
Kisah Mualaf dari Jerman (2)
17 Desember 2009
Dr. Hamid Marcus (Jerman)
Ahli Pengetahuan, Pengarang dan Wartawan
Sejak saya masih kanak-kanak, saya merasa ada dorongan dalam jiwa saya untuk mempelajari Islam. Akan tetapi kesempatan atau jalan untuk itu tidak saya temui. Saya membaca naskah terjemahan Al-Qur’an yang saya dapati di Perpustakaan kota kelahiran saya, yang bertanggal tahun 1750, suatu naskah yang telah memberikan kepada Goethe pengetahuan tentang Islam.
Saya sungguh kagum demi melihat susunan yang rasional, sekaligus memberikan kerangka komposisi ajaran-ajaran Islam. Saya juga sangat tertarik dengan dasar revolusi kejiwaan yang telah dialami kaum Muslimin dahulu kala berkat ajaran-ajaran ini.
Kisah Mualaf dari Amerika Serikat
16 Desember 2009
Thomas Muhammad Clayton (Amerika Serikat)
Matahari telah melintasi garis tengah bumi, ketika kami berjalan melalui jalan tanah dalam udara yang panas, kami mendengar suara nyaring dengan gaya lagu yang bagus monoton memenuhi angkasa di sekitar kami. Kami melintasi satu daerah yang penuh pohon-pohonan, ketika tiba-tiba kami melihat suatu pemandangan yang mengherankan yang hampir mata kami tidak mempercayainya. Seorang Arab yang buta, mengenakan pakaian yang bersih berserban putih, berdiri di atas menara kayu yang nampak baru, seakan-akan dia menghadapkan suaranya ke langit. Tanpa kami sadari, kami terduduk, seakan-akan langgam suaranya itu secara hipnotis telah menyihir kami. Adapun kata-katanya yang sedikitpun tidak kami mengerti ialah: ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR !!! LAA ILAAHA ILLALLAH !!!
Kisah Mualaf dari Jerman (1)
14 Desember 2009
Muhammad Aman Hobohm (Jerman)
Diplomat, Missionary dan Tokoh Masyarakat
Mengapa orang-orang Barat memeluk agama Islam? Ada berbagai sebab yang mendorong mereka berbuat demikian. Pertama ialah bahwa kebenaran itu selalu kuat. Akidah-akidah/kepercayaan-kepercayaan Islam itu semuanya dapat diterima akal (rasional) dan sesuai dengan alam kemanusiaan, dan keistimewaannya lagi ialah bahwa setiap pencari kebenaran yang jujur pasti menerimanya.
Kisah Mualaf dari Jepang (2)
08 Desember 2009
Ali Muhammad Mori
(Tokoh Masyarakat/Pengkhotbah Jepang)
Kira-kira 18 tahun yang lalu saya berada di Manchuria, dimana Jepang masih berkuasa. Perjumpaan pertama antara saya dengan jemaah Islam ialah di sebuah padang pasir dekat Pieching. Mereka hidup berdasarkan taqwa, dan saya amat terkesan dengan cara dan pendirian hidup mereka. Kesan ini semakin mendalam setiap kali saya pergi ke pedalaman Manchuria.
Kisah Mualllaf dari Jepang (1)
04 Desember 2009
Abdullah Uemura (Jepang)
Dalam soal iman, Islam meletakkan titik berat pada ke-Esaan Allah s.w.t., kebangkitan dari alam kubur, kehidupan di akhirat dan perhitungan amal atau hisab, disamping segala sesuatu yang penting atau berguna untuk kemaslahatan hidup. Boleh dikatakan bahwa kebiasaan dan ketekunan dalam mencari keridlaan Allah s.w.t. itu dalam kenyataannya merupakan inti dari pada ajaran-ajaran Islam. Dan dalam pencarian saya akan kebenaran, ternyata saya menemukannya dalam Islam.
Kisah Muallaf dari Inggris (2)
02 Desember 2009
Abdullah Battersbey
(Mayor Tentara Inggris)
Beberapa tahun yang lalu, dalam waktu paling kurang dari seperempat abad, adalah kebiasaan saya sehari-hari bepergian sepanjang jalan air Burma dengan menggunakan sampan. Pengemudinya seorang Muslim, bernama Syekh Ali dari Chitagong, Bangladesh. Dia seorang jurumudi yang mahir dan berpegang kepada ajaran-ajaran agamanya secara ikhlas, tekun melakukan sembahyang pada waktunya. Ketaqwaannya tidak hanya menimbulkan rasa hormat saja pada saya, tapi malahan mempengaruhi perhatian saya terhadap agama yang mampu menguasai orang ini dan menjadikannya orang yang setia/taqwa. Di sekitar tempat tinggal saya ada beberapa orang Burma Buddhist yang juga menunjukkan kesetiaannya, bahkan kadang-kadang mereka itu --sebagaimana yang saya saksikan-- termasuk penghuni bumi yang paling banyak kebaikan dan pengorbanannya. Akan tetapi bagi saya jelas adanya kekurangan dalam peribadatan mereka. Saya tahu bahwa mereka melakukan sembahyang di pagoda, karena saya melihat mereka berkumpul sambil duduk bersimpuh di sans dengan mengucapkar, bacaan-bacaan sembahyang mereka, Buddham saranam gaccami, Dharma saranam gaccami, Sanghan saranam gaccami.
Kisah Muallaf dari Inggris (1)
01 Desember 2009
Sir Abdullah Archibald Hamilton
Negarawan dan Bangsawan Inggris
Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan kemurnian Islam itu selalu menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Kristen, sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja, dan saya selalu menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi keimanan yang membuta.
Berbareng dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha Pencipta saya, dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris, tidak ada yang bisa inemberikan kepuasan kepada saya.
